Day 1: Menenangkan Pikiran di Pusat Kemacetan Jakarta




Hari ini adalah hari pertama petualangan saya bersama Yoga. Berbekalkan 1 bulan gratis di GuavaPass Jakarta saya mencari kelas Yoga yang dapat saya hadiri dari segi waktu dan tempat. Keluarlah hasil High Tea Yoga yang bertempat di Gudang Gudang Yoga Studio, saya langsung booking saja untuk jam 15.00, dengan sangat pede dan yakin bahwa saya pasti bisa hadir. Barulah saya sadar kemudian bahwa Gudang Gudang Yoga Studio berada di Kemang. Wah! berita buruk! Benar saja, saya tiba pukul 15.25 meski sudah mengusahakan secepat yang saya bisa.

Namun semua kekhawatiran saya sirna saat masuk dan bertanya ke resepsionis “kelas Yoganya sudah mulai Mba?” lalu dengan entengnya resepsionis itu menjawab saya “belum Mas”. Wah betapa bahagianya saya, karena ini hari pertama dari petualangan saya, masaklah harus gagal hanya karena saya terlambat? Dengan tergesa gesa saya masuk ke dalam, lalu saya menanyakan pada pria yang sedang mengobrol di dalam, sedari jauh saya pikir mereka juga peserta kelas Yoga. Namun saat sang pria menoleh pada saya, saya tertegun sejenak, dalam hati berkata “kayak kenal ya. Siapa ya?” lalu kesadaran saya yang lebih gaul menjawab “itu Anjasmara, artis itu lho, katrok sekali kamu ahh”. Mas Anjas juga jadi tertegun melihat saya tertegun, lalu tersenyum simpul seakan akan bilang “ga usah kaget gitu lah Mas, ga pernah liat artis ya?” lalu dia dengan santai memberi jawaban untuk pertanyaan saya tentang loker “Mas minta kunci ke resepsionis Mas, lalu nanti lokernya ada di kamar mandi, lurus saja, lalu belok ke kanan di sana Mas” ujarnya sambil menunjukkan arah.

Singkat cerita saya mengikuti instruksi sambil malu dan masih terbawa pikiran In A Rush karena terlambat. Bagi yang hidup di Jakarta pikiran In A Rush ini saya pikir biasa saja dialami, belum selesai mandi kita sudah memikirkan sarapan, belum selesai sarapan kita sudah memikirkan transportasi ke kantor atau kampus atau sekolah, belum lagi sampai di tempat tujuan kita sudah berpikir akan makan siang, pada saat makan siang kita sudah berpikir transportasi pulang, dan seterusnya dan seterusnya. Sangat jarang kita berada di sini, saat ini. Dan itulah persis yang membuat saya lantas jatuh cinta pada Yoga, kemampuan Yoga menenangkan pikiran In A Rush saya, dan membawa saya pada saat ini, di sini, di atas martas Yoga.

Hari ini peserta Yoga hanya dua orang saya dan seorang perempuan, lalu ditambah seorang instruktur kami jadi bertiga. Kami berlatih Yoga di pendopo belakang, karena ruang utama dipakai latihan Tae Kwon Do untuk anak anak. Ruangnya sangat tenang, lantai dan pilar pilarnya terbuat dari kayu, dipisahkan dengan kolam ikan dan beberapa tanaman dengan ruang utama menjadikan pendopo ini seolah dunia lain, seakan tidak lagi ada di Kemang! Martas, blok, dan air minum sudah tersedia di ruangan. Diiringi musik khas Yoga kami mulai mempersiapkan ruangan, masing masing mengambil tempat, dan kami saling berkenalan sebelum memulai sesi Yoga. Suasananya sangat kekeluargaan, saya sendiri tidak merasa ada sekat antara instruktur dan peserta, entah mengapa saya merasa menjadi seorang pribadi, dan saat ini bersama dua pribadi lain (yang setara) sedang ingin mempraktekan Yoga. Ini adalah hal kedua yang membuat saya jatuh hati pada Yoga, sifat kesetaraan, kami semua menginjak matras dengan luas yang sama, dengan ketinggian yang sama, kami setara.

Saat mulai masuk dalam latihan pernapasan Yoga, saya benar benar ditarik menuju saat ini, matras saya adalah keseluruhan dunia saya sampai sesi ini berakhir. Masuk pada gerakan demi gerakan fokus saya tertuju pada bagian bagian tubuh saya dan cara saya menggerakannya. Saya hanya mengikuti instruksi dan contoh, lalu bernafas dan bergerak. Karena saya pemula, tentunya nafas saya dalam waktu singkat sudah tidak teratur, peluh berjatuhan dari seluruh badan saya membanjiri matras. Dengan susah payah saya mencoba mengikuti semua gerakan, sampai pada saatnya kita semua diminta mempraktekkan pose Yoga (yang sering jadi pose foto di sosial media saat ini).

Kami diberi beberapa pose Yoga untuk dilakukan, beberapa pose berhasil saya lakukan seadanya, lalu tibalah saya pada pose Yoga Klimaks, klasik bhakasana. Pose ini kurang lebih adalah berjongkok, lalu bertumpu pada kedua telapak tangan. Awalnya kami melakukannya langsung di matras, lalu kami memakai alat bantu balok yang diletakkan di kaki kami. Saya tidak berhasil melakukan pose itu, bukan karena pose itu sulit, saya pikir semua pose Yoga memang sulit (tapi bukan berarti tidak mampu dilakukan). Saya gagal melakukan bhakasana karena dari awal saya melihat instruktur mencontohkan bhakasana muncul rasa takut dalam pikiran saya, rasa takut itu lalu berubah menjadi sebuah hipnosis “saya tidak akan mampu mengangkat kaki saya seperti itu!”

Rasa takut adalah penyakit pikiran, rasa takut tidak nyata, rasa takut hanyalah khayalan yang seakan akan menjadi kenyataan. Saat saya takut saya membayangkan saya akan terjatuh saat melakukan itu, dan rasa takut itu mencegah saya mengangkat kaki saya, saya sedang melindungi diri saya, atau lebih tepatnya saya kehilangan kepercayaan pada diri saya sendiri. Saya sungguh tidak menikmati bhakasana seperti tadi saya menikmati gerakan Yoga lain. Bhakasana penuh dengan rasa takut, saya menjadi pengecut dan ingin lari dan mengakhiri saja seluruh sesi ini. Dan begitulah kegagalan menanti di depan mata saya, tubuh saya dibayang bayangi ketakutan, namun instruktur Yoga itu menatap saya dan tersenyum “tidak apa apa” ujarnya. Ia lalu bilang saya sudah melakukan semua langkah dengan baik, hanya saja saya belum bisa, dan jika berlatih saya akan bisa.

Seketika senyum itu membuat saya damai, saya beristirahat, saya sadar saya takut, saya juga sadar saya gagal karena saya takut, saya hanya damai karena tidak apa untuk merasa takut. Hal ini merupakan pelajaran berharga untuk saya, saya sering memberikan standart yang tinggi pada diri saya sendiri, seakan akan saya harus selalu berani, seakan akan saya harus selalu berhasil. Yoga mengajarkan saya untuk menerima diri saya, untuk mendengarkan tubuh saya, bukan selalu memaksakan kehendak saya. Demikianlah saya menutup petualangan yoga saya hari ini.

Komentar